Menjelang UNAS SMP, Ponari Kebanjiran Pasien

Masih ingat dengan Ponari (12), dukun cilik fenomenal asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, yang sekitar dua tahun lalu populer karena setiap hari didatangi ribuan ‘pasien’?
Menjelang ujian nasional (unas) SMP, rumah bocah kelas V SD yang biasanya ‘mengobati’ orang sakit dengan batu sakti yang dicelupkan air ini, didatangi para pelajar SMP calon peserta unas, Jumat (22/4).
Tujuan para siswa untuk meminta air yang sudah dicelup dengan batu pipih milik Ponari. Mereka berharap setelah minum air yang dicelup batu ‘sakti’, pikiran bisa tenang dan lancar dalam mengerjakan soal ujian.
“Kami tetap rajin belajar. Ini (minta air celupan batu Ponari) hanya tambahan ikhtiar saja, agar lebih tenang dan lancar, baik dalam belajar maupun dalam mengerjakan soal,” kata Syaiful, pelajar SMP di Kecamatan Megaluh, Jumat (22/4).
Syaiful datang ke rumah Ponari tidak sendirian, melainkan bersama 10 teman sekelasnya. Mereka datang membawa sebotol air kemasan. Mereka juga membawa pensil 2B yang akan digunakan untuk unas.
Begitu sampai di rumah Ponari, air yang dibawa para pelajar dipindah ke ember plastik. Selanjutnya, pensil untuk unas itu diceburkan ke ember. Tak berapa lama, Ponari muncul dari dalam rumah. Di tangan anak pasangan Khomsin-Mukharomah ini tergenggam batu ‘ajaib’ yang konon ditemukan saat hujan lebat bersamaan sambaran geledek.
Ember berisi air yang berjajar di teras rumah hasil dirinya berpraktik sebagai dukun cilik itu lantas ia celupi batu secara bergantian. Selesai melakukan pencelupan batu, Ponari buru-buru kembali ke dalam rumah.
Sejumlah awak media yang hendak wawancara harus gigit jari, karena Ponari menggelengkan kepala tanda tak bersedia diwawancarai. Bahkan selama pencelupan batu, Ponari lebih banyak menundukkan wajah, menghindari kamera wartawan.
Suparti (45), orangtua siswa SMP mengatakan, ia mengantarkan anaknya meminta air bertuah dari Ponari. Dia menyadari itu hanya satu ikhtiar saja. Yang terpenting, lanjut Suparti, menyuruh anaknya giat belajar.
Ibunda Ponari, Mukharomah menjelaskan, anak semata wayangnya itu saat ini kelas V SDN Balongsari. Mukharomah mengaku, jumlah ‘pasien’ yang datang jauh menurun ketimbang ‘masa jayanya’ dulu. Tapi hampir tiap hari selalu ada pengunjung minta diobati air celupan batu petir Ponari. “Pokoknya lumintu,” katanya. Setiap tamu yang datang, meski tak pernah diminta dan dipatok tarif, rata-rata memberikan uang Rp 20.000.
Sudah berapa kekayaan Ponari selama berkarier sebagai dukun cilik? Mukharomah tak bisa menghitung pasti. Yang jelas, kekayaan itu sudah lebih banyak dirupakan dalam bentuk sawah dan pekarangan, serta rumah.
“Untuk rumah dan tanah yang ditempati, kira-kira menghabiskan biaya Rp 250 juta. Sedangkan untuk pembelian sawah dan pekarangan, mendekati Rp 1 miliar. Kalau tabungan, paling hanya beberapa juta,” imbuhnya.
Keluarga Ponari kini menempati rumah cukup mentereng untuk ukuran desa setempat. Dindingnya terbuat dari tembok dengan cat dominan warna putih, berlantai keramik mengkilap. Padahal, sebelum Ponari menemukan batu petir dan menjadi dukun cilik, rumahnya terbuat dari anyaman bambu dengan lantai tanah. Maklum, Khomsin berpencaharian sebagai buruh tani, karena tidak memiliki sawah.
Khomsin dan Mukharomah menambahkan, Ponari akhir bulan ini akan dikhitan. “Dia yang minta, karena usianya sudah cukup, 12 tahun,” jelas Khomsin.
Untuk hajatan khitan, pihaknya berencana menggelar hiburan grup khasidah dan pengajian umum mengundang ustad sebuah pondok pesantren besar di Jombang. “Itu semua permintaan Ponari. Undangan sudah kami sebar,” tambah Khomsin.
Perubahan lain, Ponari kini tak lagi suka bermain dengan handphone seperti dilakukan di awal-awal kejayaannya, pertengahan 2009. Kini dia gemar main game di laptop serta PS (play stasion).

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

Copyright 2011 NAMARA is proudly powered by blogger.com | Design by BLog Bamz Published by Template Blogger

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...